Close Menu
  • Berita
  • Hukrim
  • Nunukan
  • Pemprov Kaltara
  • Politik
  • Advertorial
  • Tentang Kami
  • Redaksi
Fokus KaltaraFokus Kaltara
  • Berita
  • Hukrim
  • Nunukan
  • Politik
  • Pemprov Kaltara
  • Advertorial
Fokus KaltaraFokus Kaltara
  • Berita
  • Hukrim
  • Nunukan
  • Politik
  • Pemprov Kaltara
  • Advertorial
Home » Kelangkaan BBM: Sebuah Pengingat Nasionalisme
Opini

Kelangkaan BBM: Sebuah Pengingat Nasionalisme

18/07/20243 Mins Read
Share
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Penulis : Hendrawan R. Wijaya (Mahasiswa Universitas Hasanuddin, Makassar)

Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, adalah wajah liris atas logistik lokal, kedaulatan energi dan nasionalisme.

Kelangkaan BBM bukanlah fenomena baru di Kabupaten Nunukan.

Dilansir dari kompas.com, pada 2020 lalu, kosongnya stok BBM di Krayan, berimbas pada harga jual yang melambung tinggi, yakni Rp. 35.0000 per liter.

Sebagai garda terdepan di perbatasan Malaysia, distribusi BBM seharusnya menjadi perhatian khusus pemerintah.

Pasalnya, kelangkaan BBM sungguh mengganggu kehidupan sehari-hari penduduk Nunukan. Transportasi menjadi terbatas, aktivitas ekonomi terhambat, dan biaya hidup meningkat.

Kondisi ini menciptakan ketidakpuasan di antara penduduk setempat yang mayoritas melangsungkan aktivitas ekonominya sangat bergantung pada BBM.

Jangan heran jika masyarakat akhirnya mengandalkan bensin impor asal Malaysia, untuk mengatasi kondisi tersebut.

Konsekuensinya terhadap nasionalisme sangat signifikan.

Nunukan merupakan bagian dari soal seberapa kuat nasionalisme kita sebenarnya.

Dalam setiap kelangkaan BBM, kita harus mempertanyakan nasib bangsa yang terdampak.

Ini adalah pelajaran tentang nasionalisme praktis. Ini bukan hanya tentang semangat merayakan kemerdekaan setiap 17 Agustus, tetapi bagaimana mengatasi tantangan nyata seperti kelangkaan BBM di tengah musim penghujan.

Dari sudut pandang nasionalisme, kelangkaan BBM di Nunukan mengundang pertanyaan kritis tentang kedaulatan energi Indonesia di wilayah perbatasan.

Nasionalisme secara gamblang diartikan sebagai semangat untuk melindungi dan meningkatkan kepentingan nasional, termasuk dalam hal kedaulatan energi. Namun, ketika sebuah wilayah seperti Nunukan menghadapi kelangkaan energi yang berlarut-larut, ini mengancam integritas kedaulatan nasional secara keseluruhan.

Apakah ini menunjukkan ketidakmampuan pusat untuk menjaga kedaulatan di wilayah perbatasan atau hanya mencerminkan kelalaian birokrasi lokal yang lebih mahir mencari alasan daripada menyelesaikan masalah?

Baca Juga:  Menyoal Klarifikasi

Lantas, apakah ini nasionalisme yang sesungguhnya kita cari?

Apakah nasionalisme hanya sekadar slogan nir-konteks ?

Tentunya kita membutuhkan nasionalisme yang substansial. Nasionalisme yang mempercakapkan tentang tanggung jawab nyata terhadap semua warga negara, tanpa memandang seberapa jauh jarak daerah mereka dari pusat pemerintahan.

Ini dapat menjadi alarm pengingat, bahwa nasionalisme sejati harus tercermin dalam tabiat berbasis bukti untuk melindungi dan meningkatkan kualitas hidup segenap warga negara, di mana pun mereka berada. Dibutuhkan keadilan distribusi BBM, terkait ketersediaan dan aksesisibilitasnya supaya ketergantungan terhadap bensin Malaysia tidak adiktif.

Ketergantungan terhadap impor bensin dari Malaysia membawa risiko geopolitik yang tidak bisa diabaikan.

Indonesia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa dalam situasi darurat atau politik yang runyam, pasokan energi ke Nunukan dapat dihentikan atau dimanipulasi oleh negara tetangga.

Hal ini bukan hanya menimbulkan ancaman terhadap kestabilan ekonomi dan sosial di Nunukan, tetapi juga mempengaruhi persepsi nasionalisme di kalangan penduduk lokal.

Untuk memperkuat kedaulatan energi dan mendukung semangat nasionalisme tanpa sekat, antara pusat dan perbatasan, dibutuhkan kerja sama antar instansi, strategi kebijakan energi yang terintegrasi, dan komitmen untuk membangun infrastruktur yang kokoh di wilayah perbatasan.

Sehingga kedaulatan itu bukan sekadar terjaga di atas kertas, tetapi juga di lapangan, termasuk di Ujung Timur Indonesia, yakni Nunukan kita bersama.

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email Telegram WhatsApp

TRENDING

Warga Sebatik 40 Tahun Menanti Listrik PLN di Tengah Demam Piala Dunia 2026

19/06/20264 Mins Read

Harganas 2026, Gubernur Kaltara Serukan Ketahanan Keluarga Hadapi Tantangan Digital

29/06/20263 Mins Read

MTQ X Kaltara Hadirkan 330 Peserta, Gubernur Tekankan Nilai Qur’ani

30/06/20263 Mins Read

Reses, Ramsah Janji Perjuangkan Infrastruktur Sebatik pada 2027

18/06/20263 Mins Read

Kebakaran Rumah di Sebuku Diduga Dipicu Korsleting, Warga Sempat Dengar Ledakan

30/06/20262 Mins Read

DPRD Bulungan Apresiasi Tiga Raperda, Wakil Bupati Pastikan Masukan Diakomodasi

29/06/20263 Mins Read

Amukan Api di Lokasi yang Sama: Kebakaran Toko Sembako Nunukan Jalar Cepat, Rugi Ratusan Juta

20/06/20263 Mins Read

Jalan Perbatasan Jadi Sorotan, Wagub Kaltara Dorong Percepatan Perbaikan Akses

03/07/20263 Mins Read
Fokus Kaltara
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
© 2026 FOKUS KALTARA

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.