Menu

Mode Gelap

Berita

Warga Sebatik 40 Tahun Menanti Listrik PLN di Tengah Demam Piala Dunia 2026

Avatarbadge-check

Warga Sebatik 40 Tahun Menanti Listrik PLN di Tengah Demam Piala Dunia 2026 Perbesar

Reporter: Dzulviqor (kabarnunukan.com) | Editor: ESD (Fokus Kaltara)

Riuh gol Piala Dunia 2026 mungkin terdengar di mana-mana. Namun, atmosfer kemeriahan itu tidak terasa di beberapa sudut Pulau Sebatik, Nunukan.

Saat penduduk daerah lain asyik menonton siaran langsung di TV layar lebar, sejumlah warga di tapal batas Kaltara ini cuma bisa gigit jari. Mereka terpaksa mengandalkan layar HP, itu pun hanya untuk menonton siaran ulang.

Masalahnya klasik tapi miris: kampung mereka belum punya listrik. Padahal, lokasi rumah mereka ke pusat Kabupaten Nunukan itu sebenarnya dekat.

Kepala Desa Setabu, Muksin, mengonfirmasi langsung kondisi tersebut. Menurutnya, setrum PLN memang belum pernah menyentuh wilayah perbatasan itu sejak awal.

Muksin menyebut Kampung Tebol dan Kampung Telang di Kecamatan Sebatik Tengah masih gelap gulita. Kondisi serupa juga melanda Kampung Mantikas, Bebatu, Tembaring, dan Kebakil di Kecamatan Sebatik Barat.

Di Mantikas misalnya, ada sekitar 10 KK dan satu sekolah madrasah yang tiap malam harus gelap-gelapan. Kondisi yang sama juga melanda Kebakil (60 KK) dan Bebatu (45 KK).

“Belum ada tiang listrik PLN. Warga terpaksa menggunakan genset, sebagian lagi pakai lampu charger,” kata Muksin via telepon, Jumat (19/6/2026).

“Masyarakat selalu memasukkan usulan ini (sambungan listrik PLN) setiap Musrenbang. Hanya janji-janji saja sampai sekarang,” keluh Muksin.

Biaya Genset Mencekik demi Lampu Belajar Anak

Ketiadaan akses listrik otomatis memaksa warga perbatasan memikul beban ekonomi yang jauh lebih berat.

Ketua RT 10 wilayah Bebatu, Bonifasius, menjadi saksi hidup penantian panjang selama lebih dari 40 tahun ini. Demi menerangi rumah dari pukul 18.00 hingga 06.00 WITA, Boni harus membakar uang setiap hari untuk membeli bensin genset.

Harga bensin murni Rp15.000 per liter dan bensin campur yang menyentuh Rp20.000 per liter memaksa warga merogoh kocek hingga Rp50.000 sehari.

Beban ini jelas mencekik di tengah kenaikan harga pangan dan kebutuhan BBM motor untuk bekerja ke kebun sawit. Saking kesalnya, Boni bahkan melayangkan tantangan terbuka.

“Saya tantang PLN, kami mau bayar dua kali lipat tagihan PLN perbulannya kalau memang itu syaratnya,” kata Boni lantang.

Masalah ini juga mengancam masa depan pendidikan. Banyak warga RT 10 Bebatu akhirnya mengambil langkah nekat demi anak-anak mereka.

Mereka menyewa tanah atau rumah seharga Rp400.000 hingga Rp500.000 sebulan di wilayah bawah. Langkah itu mereka ambil asal anak-anak bisa belajar dengan fasilitas lampu yang layak.

Menembus 5 Kilometer demi Nobar Piala Dunia

Masyarakat perbatasan Sebatik seolah tidak punya pilihan hiburan setelah seharian memeras keringat di kebun kelapa sawit atau mengurus rumput laut.

Momen Piala Dunia 2026 inilah yang memicu warga Bebatu nekat menempuh jarak 5 kilometer menuju warung kopi terdekat. Mereka rela melakukan itu demi merasakan keseruan nonton bareng.

“Kita butuh juga namanya hiburan. Tapi kalau belum ada listrik, biar badan capek asal hati senang, jarak jauh tetap terpaksa kita lewati ikut nonton ramai-ramai,” tutur Boni.

Boni tahu betul risikonya, mulai dari kelelahan hingga potensi kesiangan berangkat ke kebun keesokan harinya. Namun, kerinduan akan rasa bahagia mengalahkan segalanya.

“Kami terus berharap bisa menikmati listrik. Itulah kenapa saya katakan, kalau memang kami harus bayar lebih mahal dua kali lipat atau bahkan tiga kali lipat, kami akan bayar itu PLN,” tambah Boni, meluapkan kekecewaan mendalam.

Jawaban PLN: Survei Sudah, Nyala Masih Tahun Depan

Keluhan menahun warga perbatasan ini akhirnya mendapat tanggapan dari pihak penyedia setrum negara. Kepala PLN Rayon Nunukan, Rendra Alfian, langsung buka suara memaparkan rencana kerja instansinya.

Sayangnya, belum ada kabar baik yang instan untuk seluruh wilayah Sebatik yang gelap gulita. PLN baru punya rencana konkret untuk satu wilayah saja, yaitu Kampung Tebol.

“Untuk Kampung Tebol, tim kami sudah lakukan survei lokasi dan kajian di Bulan Februari kemarin dan sudah masuk roadmap desa berlistrik,” jelas Rendra.

Lalu, kapan lampu di Kampung Tebol menyala? Warga tampaknya masih harus mengurut dada dan memperpanjang napas sabar mereka.

“Rencana dilistriki sesuai roadmap tahun 2027,” pungkas Rendra.

Artinya, di tengah kepungan kemegahan pasokan energi negara tetangga Malaysia, warga Sebatik masih harus patungan beli bensin genset. Mereka juga harus menembus gelap jalanan demi hiburan, setidaknya sampai tahun depan.

Kondisi infrastruktur seperti ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemangku kebijakan daerah. Karena sejatinya, setiap warga di beranda depan Kalimantan Utara berhak mendapatkan informasi, hiburan, dan hak energi yang sama—semuanya harus bisa diakses secara merata dan mudah, cukup dalam satu genggaman.


Catatan Redaksi: Artikel ini disunting ulang dari laporan asli kabarnunukan.com berjudul “Demam Piala Dunia 2026 dan Gelapnya Perbatasan Sebatik Tanpa PLN” dengan penyesuaian gaya bahasa khas Fokus Kaltara (One Click for North Borne) tanpa mengubah substansi informasi.

Lulusan IPDN Angkatan XXX Generasi Baru Penggerak Pembangunan Kaltara

29 Oktober 2024 - 20:18 WITA

Tim SAR Hentikan Pencarian Nelayan Nunukan Yang Diduga Diseret Buaya, Keluarga Lakukan Pencarian Dengan Petunjuk Paranormal

12 Agustus 2024 - 06:51 WITA

Berita